Assalamu’alaikum
wr wb..
Hi, Sobat #JustShare.. kali ini gue mau sharing tentang perjalanan ke
Papandayan. Mungkin kedepannya bakalan ada kisah-kisah travelling gue di sini. Tujuannya, supaya bisa dijadikan tips and
trik sebelum ke destinasi tujuan. Buat kalian yang newbie (sama kaya gue), penting banget nih buat tahu medan,
transport, dll biar ada gambaran pendakian nantinya. Yaap gue mulai aja.
12 Februari 2019
Kita start dari pool bis Primajasa Cililitan jam 9 malam. Alasan kita buat
jalan malam supaya nanti sampai sana pagi, dan bisa lebih banyak habisin waktu
di gunung. Singkat cerita bis baru jalan jam 11 dong coy. Wkwkkw.. Kita naik
bis tujuan Garut.
Sampai di Garut sekitar pukul 02.00, saat itu gak Cuma kita pendaki newbie
dari Jakarta yang dikerjain sama orang-orang terminal. Ada pendaki juga tapi
mau ke Cikuray, ditawarin harga yang mehong pokoknya. Akhirnya gue berempat
naik angkot tujuan Cisurupan terus paginya naik ojek sampai di gerbang masuk
Papandayan.
(TIPS 1 : Kalau gue saranin mending udah nyarter mobil dari jauh-jauh hari.
Banyak juga kok jasa-jasa mobil jemputan gitu di IG. Pas gue pulang, gue pakai
jasa jemputan dan lebih irit. Kalaupun mau ala-ala backpacker gue saranin lebih
dari 5-6 orang)
13 Februari 2019
Seperti yang sudah banyak diketahui pendaki, bahwa Papandayan ini gunung
mahal di Indonesia. Yaap, biaya masuknya mayan sih, tapi dibandingkan sama alam
yang disugguhkan, gue rasa biaya segitu gak ada apa-apanya. Dari awal pendakian
kita udah bisa lihat pemandangan kawah-kawah belerang yang masih aktif.
(TIPS 2 : Bawa masker ya manteman, disini belerangnya masih aktif banget,
semakin siang semakin banyak)
Soal Trek, di Papandayan ini ada 2 trek, trek yang jalur lama sama jalur
baru. Kalau kalian yang udah terbiasa sama trek-trek gunung level atas, sabi
banget coba yang jalur hikking. Tapi buat yang newbie jangan takut karena ada trek baru yang pas banget buat kita.
Jadi, dalam pendakian ini gue dan temen-temen pakai trek baru.
Kalau yang bingung pos-posnya itu dimana? Seinget gue kemarin itu gak ada
tulisan pasti itu pos berapa. Pokoknya tiap beberapa meter ada kamar mandi,
bersih lagiii, jadi gak sia-sia kok bayar mahal. Trek baru ini juga aman buat kalian
yang gak pakai sepatu gunung, tapi tetep yaaa buat safety lebih dianjurkan
pakai sepatu gunung. Terus, treknya itu tangga menanjak gitu, tangganya udah di
modif dari bebatuan disekitar situ. Meskipun treknya tangga, tetep bikin betis
peggel coy.
Setelah melewati beberapa kamar mandi (sorry gue lupa), nanti kalian akan
ketemu sama pos yang ada tukang jualannya. Mantaaap, capek-capek istirahat dulu
disini. Dan harga makananya murmer. Harga gorengannya Rp1.000,00 satunya, ada
buah juga, minuman lengkaplaah.. kalau bisa sempetin mampir kesini, supaya kita
bisa ikut bantu perekonomian masyarakat sekitar. Abis santai-santai, lanjut
lagi guys!
Nah bedanya lagi nih, jalur lama dan jalur baru. Kalau jalur lama, hutan
mati itu setelah pondok saladah (tempat camp), sedangkan jalur baru, hutan mati
dulu baru pondok saladah. Jadi, gue saat itu ke hutan mati dulu baru ngecamp di
Pondok Saladah.
Sesampainya di Pondok Saladah, kita langsung cari area camp. Oh iya, di
pondok saladah juga ada toilet bersih, musholla, warung-warung, dan pos jaga.
Kata pak Adi, penjaga disana, kalau weekend di pondok saladah bisa sampai
400-500 tenda, kalau weekday memang lebih sepi, ya paling banyak 10-20 tenda.
Disini juga ada cuanki lho.. buat yang gak tahu cuanki, cuanki itu semacam bakso
malang tapi beda. Hmmm ya gitulah, coba search aja yaak. Harganya Rp10.000,00.
Sama sih harganya kaya di Nangor tempat gue kuliah.
Awalnya Cuma ada 2 tenda, tenda gue dan temen-temen gue pastinya. Eeh
semakin sore jadi nambah lagi, Alhamdulillah banget gak Cuma berdua tendanya,
karenaaaa.. ada kejadian aduhai di malam hari (eitss bukan yang mistis kok,
tenang). Sore harinya, kami berkumpul di tengah api unggun. Entah kenapa udara
Papandayan itu dingin beut. Seinget gue pas ke gede, gue baru merasa dingin itu
jam 3 sore, di Papandayan jam 12 aja dingin bro. Jadi siapin baju hangat yap.
Lanjut ke perbincangan sore hari.
Mungkin ini first time gue merasa
mendaki gunung sesungguhnya, sebuah pendakian yang gue impikan. Gue pengen
banget ngumpul sama pendaki lain di satu lingkaran api unggun buat dengerin
pengalaman pendaki-pendaki yang jam terbangnya udah tinggi. Dan Alhamdulillah
sore itu impian gue terwujud. Nah lanjut, jadi dalam perbincangan itu ada bapak
penjaga warung yang ikutan. Namanya Pak Idrus, Bapak memberikan wejangan kepada
kami, bahwa di Papandayan masih banyak babi hutan. Disini babi hutan dilindungi
sebagai wilayah konservasi. Semua logistik baik itu makanan, parfum, sabun, dll
pokoknya yang berbau deh digantung di atas pohon yang tinggi. Terus tenda harus
terang jangan sampai gelap, arahkan lampu ke bagian tenda.
(TIPS 3 : Semua logistik digantungin ya guys, apapun ituuu. Cari aman
ajaa.. soalnya mereka ngendus. Terus juga kalau bisa bawa lampu emergency dan
kalau bisa warna merah. Hehe,.. karena buat babi, warna merah itu menandakan
pemangsanya, jadi doi takut. Terus di depan tenda kalau bisa buat api unggun
biar aman)
Usai maghrib, ada satu grup lagi dateng, dan langsung mendirikan tenda tak
jauh dari tenda grup kami. Setelah itu kami bercengkrama, makan bersama, aaah
pokoknya seruu banget deh. Tiba-tibaa bagong (bahasa sunda babi hutan) membuat
lubang cantik di tenda teman gue. Huuft, setelah diselidiki ternyata di dalam
tenda ada bumbu masak. Atas kejadian itu, maka kami (tenda yang berjauhan)
memindahkan tenda dekat dengan api unggun. Jadi 4 tenda membuat lingkaran di
api unggun.
(TIPS 4 : Oh iyaa, bagong juga takut sama senter, kalau kalian liat bagong,
di senterin aja, nanti mereka kabur kok).
Sambil bercerita kami sambil patroli bagong. Memang, ada pos penjaga.
Namun, penjaga juga berpatroli ke area camp lainnya. Saat rasa kantuk itu
datang, akhirnya kami menuju tenda masing-masing. sampai akhirnyaa jam 12.30,
tenda sebelah gue teriak-teriak seakan-akan ada badai, “Waaaaw waaaaa.... Babii
Babi..” refleks gue langsung mengarahkan senter ke area tersebut dari dalam
tenda. Yap, bagong bawa 1 kresek logistik dan lagi-lagi membuat lubang yang
lebih besar (seukurang kepalanya) ke tenda tersebut. Tenda samping gue itu
memang tak ikut briefing dengan bapak penjaga warung sore hari. Namun, temen
gue sudah mengingatkan. Tenda sebelah kira, bagong gak akan ngendus mie. Eeeh..
Bagong mah hebat yaks. Usai kejadian itu, tak ada yang tidur dan semua kembali
ke area api unggun.
Pukul 03.30, bapak penjaga bangun dan bapak patroli tiba di camp kami.
Sedikit tenang, namun ada beberapa rekan yang masih berjaga. Kata bapak penjaga
“Udah setengah 4 mah udah gak ada bagongnya.” Akhirnya bapak penjaga pergi ke
warung lagi. Tetap panik, maka sebagian rekan membagi jadwal patroli. Benar
saja, jam 04.00 bagong masih keluar guys!, padahal tadi katanya udah gak ada.
Pokoknya jaga-jaga aja sampai terang lah yaa..
Sore hari saat bercengkrama dengan bapak penjaga warung, bapak menawarkan
memandu kami sampai puncak papandayan, namun dengan biaya Rp25.000,00/orang
(kalau banyakan ya guys). Namun karena kami sudah cukup lelah dengan bagong
semalam, maka kami memilih untuk sunrise di hutan mati saja. Daaan tak kalah
indah sunrise disana.
14 Februari 2019
Dari hutan mati kita bisa melihat gunung puntang dengan gagahnya di utara,
lalu gunung guntur, cikuray, dan sedikit ciremai terlihat di sebelah barat.
Masya Allah.. indah banget pokoknya, seakan kejadian bagong semalam terlupakan.
Usai menikmati sunrise dan berfoto ria, kami makan, lalu mengemaskan
barang-barang. Yap, ternyata bahan makanan kami tidak habis seutuhnya. Akhirnya
kami memberikannya ke penjaga warung terdekat. Oh iya, warungnya itu banyak
sekitar 10-an. Jualannya beda-beda, kalau weekend warung buka semua, kalau
weekday hanya beberapa. Ada warung yang bisa charger hp, bayar Rp5.000,00.
Dikarenakan sudah digetok saat berangkat menuju Papandayan, kamipun iseng
bertanya pada Bapak penjaga. Bapak penjaga menawarkan jasa angkut yang
merupakan saudara bapaknya. Akhirnya kami mengiyakan dengan deal-dealan harga.
Nawar aja kalau bisa guys. Mobilnya rush, karena waktu itu kami berempat,
mungkin kalau banyakan bisa dicariin yang lebih cukup kapasitasnya.
Sesampainya di bawah, saran gue hubungi dulu jasa angkutnya, jangan nunggu
di tempat istirahat sekitar situ, karena nanti jasa angkut harus memberikan
uang kepada pemilik tempat tersebut. Kasihan kan, kita udah nawar eeh bapaknya
dapet uang yang udah di potong lagi. ☹.
Jangan lupa beli merchendaise.. muraah kok sticker Rp10.000,00/3 sticker,
sweater rajut Rp65.000,00 tebeeel lagi, syal panjang : Rp35.000,00, syal pendek
: Rp25.000,00. Beli yaaa buat pemasukan warga sekitar.
FYI, semenjak dikelola swasta, dampak negatif bagi para pedagang yaitu
berkurangnya pengunjung. Yap, tak lain dan tak bukan karena biaya masuknya yang
mehong. Dulu katanya weekend aja rame bisa sampai ratusan, apalagi weekday.
Memang secara infrastruktur sangat baik pengelolaannya, jalan menuju gerbang
utama juga bagus, jalur pendakian yang sudah tertata, toilet bersih, saung
aman, dll.
Akhirnya kami tiba kembali di Jakarta setelah menaiki bis Primjas 5 jam
perjalanan.
Estimasi Biaya
Bis Cililitan-Garut (Pulang-Pergi) [Rp104.000,00/orang]
Angkot Terminal Guntur-Cisurupan [Rp25.000,00/orang]
Ojek Cisurupan-Gerbang [Rp25.000,00/orang]
Tiket masuk [Rp20.000,00/orang (weekday). Rp25.000,00/orang (weekend)]
Tiket masuk camping [Rp35.000/orang]
Jasa Angkut [Rp200.000/mobil (tergantung deal-dealan harga ya)]
Biaya Lainnya
Toilet : [Rp3.000,00 (weekend), seiklasnya (weekday)]
Gorengan [Rp1.000,00/gorengan]
Buah [Rp2.500.00/potong]
Cuanki [Rp10.000,00/porsi]
Charger [Rp5.000,00]
Guide Summit, Tegal Alun, dll [Rp25.000,00/orang (sesuai jumlah orang juga ya)]
Estimasi Waktu
Jakarta-Garut : 5-6 jam (tergantung lalu lintas ya)
Terminal Guntur-Cisurupan :
1 jam
Cisurupan-Gerbang Pendakian :
15 menit (naik ojek)
Awal Pendakian-Pondok Saladah :
3 jam (gue banyak istirahatnya ya)
Summit :
1,5 jam (dari pondok saladah)
Tips :
Selain tips yang gue selipkan tadi yaa..
- Pilih
sepatu yang bawahnya gak licin
- Hati-hati
sama barang bawaan pas di terminal yaa.
- Gue
saranin banget mending pake jasa sewa kalau memang dikitan, sampainya
pagi/malam, dan baru ke Papandayan.
- Bawa
jaket tebal atau sweater, sarung tangan, dan kaos kaki. Soalnya jam 12 siang disini aja beeer dinginnya
- Sumber
airnya banyak gengs (jangan berat-berat bawa persediaan air)
- Negcamp
biar aman di pondok saladah dan jangan terlalu ke atas (area pohon-pohon),
karena bagong turunnya dari situ
- Bawa
tali buat ngiket logistik di pohon.
- Jangan
jorok, habis makan dibersihin, biar gak di endus bagong
- Dan
tips pada peraturan pendakian pada umumnya.
Note :
Bagong itu tidak seutuhnya jahat guys. Ibaratnya, kita hanya bertamu ke
rumahnya bagong. Jadi jaga sikap dan perbuatan. Patuhi aturan yang ada. Kalau
dipikir-pikir kasihan juga bagong, mungkin sumber makanannya sudah terkikis
sampai harus cari ke perkemahan pendaki. Keep positif aja yaa. Jangan lupa
senantiasa berdoa. Baik bagong maupun kita itu milik-Nya, minta perlindungan
hanya pada-Nya.
Gue juga gak mau bilang kalau Papandayan itu pas buat newbie karena setiap orang punya ketahanan fisik beda-beda. Intinya
tetap persiapkan diri sebelum muncak. Minimal banget sering jogging di H-7 hari
keberangkatan.
Kontak :
Pak Idrus (Guide Puncak Papandayan) : 087798480615
Pak Isal (Transportasi Papandayan-Cikuray-Guntur) : 081323323979 (Ig:
@transportasi_papandayan)
Semoga Bermanfaaat..
Have Fun
#SalamLestari